Pemahaman Pater Dehon Tentang Kematian dan Bagaimana Ia Menghidupinya

Memorial Day Komunitas Superiorat Lampung

Pada hari Selasa, 28 November 2023 diadakan perayaan Memorial Day untuk Superiorat SCJ Lampung. Selebrasi tersebut sebetulnya jatuh setiap tanggal 26 November. Tempat acara adalah di kapel di mana terdapat makam Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ. Banyak bunga tabur yang akan diberkati diletakkan di depan altar dan pusara. Foto-foto para misionaris SCJ di Indonesia, para martir di Kongo, serta para romo dan bruder yang telah berpulang. Menjelang pukul 09.00 WIB, rombongan mulai berdatangan dari segala penjuru. Mereka berasal dari Pringsewu, Gisting, Kalirejo, Sritejo, Mesuji, Metro, Teluk Betung, dan Bandar Lampung. Acara diawali dengan makan dan minum ringan sambil saling menyapa. Yang menghadiri ialah para Dehonian (romo, bruder, dan frater) beserta Keluarga Dehonian Pringsewu-Gisting (dengan mengenakan baju merah) serta para pemerhati SCJ.  Suasana keakraban sangat terasa. Selain itu hadir pula satu suster FSGM, satu suster CB dari Tanjung Senang, beserta R.D. Yohanes Sulatin selaku vikaris parokial Santo Yusuf, Pringsewu (ikut berkonselebrasi saat misa).

Para Dehonian wilayah Superiorat Lampung mengadakan konfransi bersama Rm. Yohanes Ngatijan SCJ Magister Novis SCJ

Pada pukul 09.15 WIB, semua peserta mengikuti rekoleksi singkat yang dibawakan oleh R.P. Yohanes Ngatijan, SCJ. Temanya ialah “Pemahaman Pater Dehon tentang kematian dan bagaimana ia menghidupinya” dengan ayat emas “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1: 12?). Romo Ngatijan mengawali rekoleksi dengan melihat  pemilihan tanggal. Pada tanggal 25-26 November di tahun yang silam tidak sedikit misionaris yang berpulang. Para peserta diajak untuk menyadari kematian sebagai misteri. Kematian terkadang ditakuti. Namun, tidaklah demikian bagi orang yang sungguh beriman. Kematian adalah penemuan yang baik karena akan menghapus semua hal yang lama (Steve Jobs), merupakan pintu kebaruan, serta saat pergantian dari yang fana kepada yang baka. Kematian menjadi jalan menuju keselamatan dan persatuan dengan Allah (bdk. Yoh 11:25). Dalam kematian ada harapan (Paus Fransiskus).

Dehonian Muda (Novis dan Postulan) dari Komunitas Postulat-Novisiat St. Yohanes Gisting

Pater Dehon meninggal pada 12 Agustus 1925. Sebelumnya, beliau sudah merefleksikan mengenai kematian. Seruannya ke gambar Hati Kudus, “Bagi-Nya aku hidup. Bagi-Nya aku mati,” menunjukkan dia sudah menerimanya. Pater Dehon sudah mengalami apa yang dirindukannya dalam hidup sehingga meninggalkan dunia dengan sukacita. Imam dengan empat gelar doktor tersebut merasakan dirinya sebagai orang yang paling menerima banyak rahmat. Dia mampu melihat apa yang dikehendaki Allah di balik peristiwa berat, menyedihkan, dan menderitakan. Kaul pengorbanan diucapkannya secara tersembunyi (privat). Kerjanya tanpa kenal lelah hingga akhir hidupnya. Tahun 1925 sudah dirasakan sebagai tahun terakhir hidupnya. Keutamaan-keutamaannya ialah kerendahan hati, rasa ingin tahu yang besar, seorang motivator, serta senang berbagi dan memberi diri. Ketika seorang sudah sampai di tingkat iman seperti ini, ia dapat mengatakan seperti rasul Paulus “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Pater Dehon juga bergulat dengan kesendirian menjelang kematiannya. Figur sahabat menjadi sangat penting. Ia mengenang para sahabatnya termasuk mereka yang membantu mendirikan kongregasi.  Kematian juga dipandangnya sebagai reuni besar dalam persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus. Ia sudah merindukan surga dan Tuhan. Selain itu, kematian sebagai kelahiran baru.

Para Relegius Dehonian (Romo, Bruder, Frater SCJ) dari Komunitas Superiorat Lampung

Setelah pemaparan sekitar 1¼ jam, 4 (empat) orang berkesempatan membagikan pengalaman dengan satu romo atau bruder SCJ yang sudah meninggal. R.P. Gregorius Jenli Imawan, SCJ menceritakan kisahnya bersama R.P. Paulus Sugino, SCJ ketika bersama-sama mengambil kursus Bahasa Perancis di Brussel, Belgia. R.P. Albertus Joni, SCJ meungungkapkan pengalaman tak terlupakan bersama R.P. Budi Winoto, SCJ. Dua keluarga Dehonian Gisting-Pringsewu juga mengungkapkan hal serupa. Yang satu dengan Rm. Cipto, yang lain dengan Rm. Markus Tukiman. Acara kemudian dilanjutkan dengan persiapan misa.

Misa dirayakan di tempat yang sama dengan selebran utama R.P. Julianus Sukamto, SCJ selaku Superior SCJ Wilayah Lampung. Para imam yang lain berkonselebrasi. Para frater novis dan postulan bertugas sebagai paduan suara, lektor, misdinar, dan pemazmur. Dalam homilinya, Rm. Kamto mengajak semua umat untuk menyadari cinta Allah yang tidak ada habisnya. Tuhan akan menyertai sampai akhir zaman (bdk. Yoh 6:32-40, perikop Injil yang dipilih secara khusus). Selain itu, jasa para misionaris dan keutamaan-keutamaan mereka juga dikenangkan. Pun semua diajak untuk mendoakan mereka. Setelah komuni, diadakan pemberkatan bunga tabur. Seluruh umat menaburkannya di makam para romo, bruder, frater, dan suster setelah misa selesai. Acara ditutup dengan makan siang bersama di makam.

disunting oleh tim postulat-novisiat st Yohanes Gisting

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*