Kisah Beato Yohanes Maria Dari Salib (Bagian 1)

Beato Juan Maria de la Cruz
Beato Juan Maria de la Cruz memimpin Misa

Bagian 1: Masa Kecil dan Pelayanan di Paroki 
(Dari  aneka sumber)

Keluarga yang sederhana dan beriman 
Beato Yohanes Maria dari Salib memiliki nama asli Juan Mariano. Ia berasal dari negara Spanyol, tepatnya di San Esteban de los Patos, Avila. Di sanalah tempat orang-orang Kristen yang kuat dan beriman militant serta sederhana. Kebanyakan warganya adalah petani dan peternak.

Ia lahir pada tanggal 25 September 1891. Ia memiliki nama baptis Mariano. Juan adalah anak pertama dari lima belas b

ersaudara. Kendati jumlah anaknya banyak, keluarga ini berusaha keras memberikan pendidikan Kristiani yang kokoh dengan iman dan kehidupan Kristen. 

Keluarganya merupakan keluarga yang cinta gereja. Pak Mariano, ayahnya, sepulang dari ladang, sore harinya memimpin novena dan doa rosario. Maklumlah demikian karena di sana tidak ada imam yang mengurus umat di sana. Pak Mariano memang tokoh dalam gereja dan sering kalau ada apa-apa berkaitan dengan soal umat, ia yang dipanggil oleh pastor. 

Panggilan Imam

Pada usia sepuluh tahun, Juan Mariano menyatakan keinginannya untuk menjadi imam. Romo parokinya lalu mengajarinya membaca dan kemudian setelah itu ia menjalani pendidikan calon imam di Seminari Avila.

Saat belajar Filsafat dan Teologi, di kalangan seminaris ia dikenal sebagai “teladan dalam segala hal, membedakan dirinya karena kerendahan hatinya yang mendalam, juga sebagai pemuda yang memiliki bakat luar biasa.” 

Salah satu karakteristik yang tetap meskipun menjalani hidup yang keras, penuh pengorbanan dalam doa dan kerja keras, “ia sangat ceria, bersenang-senang dengan semua anak. Ia bukan anak nakal yang suka merusak ketentraman di antara teman sekelasnya. Mariano dikenal sebagai seorang yang agak suci.” Hal ini bisa dimengerti karena tekadnya untuk melayani Tuhan sangat besar dan ia punya dorongan untuk hidup yang lebih mendalam dan kesatuan dengan Allah. Kendati masih muda Ia memiliki keprihatinan dengan banyaknya paroki yang kekurangan imam. 

Seorang imam yang baik di daerah yang sulit

Pada tanggal 18 Maret 1916, dia ditahbiskan menjadi seorang imam di Avila. Ia berusaha mengikuti jejak Yesus dari Nazareth, dengan mendedikasikan tahun-tahun hidupnya untuk pelayanan paroki di kota-kota kecil di provinsi tersebut. Memang fisiknya tidak kuat tetapi sosoknya dekat dengan Tuhan di tengah-tengah rakyat Castilia yang menderita akibat kemiskinan, situasi politik, dan kurangnya harapan. Rm. Juan atau kadang dipanggil romo Mariano dipercaya untuk paroki-paroki yang umatnya miskin dan sedikit penduduknya. Walaupun demikian umatnya mereka kuat dan kaya dalam kekristenan.

Pada tahun 1920-an, Spanyol berhadapan dengan badai yang ganas yang mengakibatkan banyak kehilangan. Kerusakan-kerusakan itu menyebabkan kehancuran rakyat. Gereja juga terguncang karena mengalami kehilangan umat Kristen awam yang tak terhitung jumlahnya. Ada sekitar 6.832 bersama dengan uskup, imam, dan biarawati lainnya. Maka menjadi seorang Kristen pada masa itu perlu dibayar mahal, hampir selalu dengan nyawanya.

Pada tanggal 23 Mei 1916, romo Juan Mariano pergi ke Hernansancho. Di sana, dia mengembangkan karya pastoral yang intensif. Ia hadir sebagai pribadi yang sederhana dan rendah hati. Ia memiliki kebiasaan doa yang lama dan adorasi Sakramen Mahakudus selama malam yang sangat dingin di Avila. Ia melakukan mortifikasi jasmani dan kurang tidur untuk membangkitkan iman, ibadah, dan terutama pengakuan, devosi Ekaristi dan Maria, serta menghadapi penistaan. Ia lakukan itu semua dengan dijiwai kasih dan pelayanan. Umat yang dilayaninya memang orang-orang yang sangat miskin di tempat terpencil itu dan romo paroki menjalani hidup berdasarkan pemberian umatnya. 

Kesaksian umat yang sekarang sudah sangat tua mengatakan bahwa romo Mariano tidak pernah meminta apa pun, bahkan dia tidak akan membawa-bawa keranjang sumbangan. Umatnya menganggapnya aneh. Bila ditanya tentang keranjang sumbangan dia akan menjawab: “itu akan menjadi seperti mengubah gereja menjadi bank.” 

Romo Juan Mariano selalu membuka pintunya siang dan malam bagi yang membutuhkan, yang sakit, siapa pun… Dikisahkan di kota Hernansancho pernah terjadi perkelahian sengit yang berakhir dengan pertumpahan darah. Si pembunuh meninggalkan beberapa orang terluka. Pastor paroki, romo Mariano datang untuk membantu yang terluka di tengah baku tembakan. Si pembunuh kemudian pergi dan berkata kepada temannya, “Aku telah meninggalkan beberapa kambing kecil terlentang di tanahmu. Aku tidak memiliki keinginan untuk membunuh imam karena dia seorang santo.” Ia benar-benar imam yang suci.

(bersambung ke bagian 2.) 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*