Bagian 4: Menuju Kemartiran
(Dari Aneka Sumber)
Menuju Yerusalem
Pada tanggal 18 Juli 1936, terjadilah apa yang disebut sebagai Pemberontakan Nasional yang memicu Perang Saudara serta “penganiayaan agama.” Dalam situasi itu banyak saran agar para imam dan religius untuk pergi menjauhi situasi demi keselamatan nyawa mereka. Dalam situasi itu Romo Juan pergi Valencia. Mengapa ke Valencia? Di sana ia tidak dikenal oleh siapa pun, sehingga mereka berpikir dia bisa tidak dikenali dalam “pengejaran imam-imam” yang mungkin terjadi. Ia tidak memakai jubahnya dan mengenakan jaket besar yang sudah lama dipakai. Karena jaket itulah ia dikenal oleh sesama narapidana dengan sebutan si“Jaket Besar.”
Pengejaran yang kejam dan tanpa belas kasihan di seluruh Spanyol menyebabkan ada sekitar 2.077 orang yang dibunuh, termasuk sepuluh uskup. Salah satu pemimpin barbarisme yang tidak dapat dibenarkan, Jose Diaz, pemimpin sektor Spanyol dari III Internasional, dengan jelas mengatakan di Valencia: “Di provinsi-provinsi yang kami kuasai, tidak ada lagi Gereja. Spanyol telah jauh melampaui karya Soviet, karena saat ini Gereja di Spanyol telah dimusnahkan”. Di Valencia, dari 1.200 imam diosesan, 327 dibunuh. Sepertinya romo Juan segaja menuju tempat yang paling berisiko.
Salah satu temannya berkata: “Saya berkontak dengan dia pada tahun 1936 dan saya mengetahui perasaan Hamba Tuhan, yang siap menerima apa pun yang Allah kehendaki untuk keselamatan tanah air kita. Ia memiliki iman buta dalam kemenangan yang diberikan oleh Tuhan, meskipun ia harus mengalami hukuman besar atas dosa-dosa sosial. Ia akan mengkomunikasikan semangat dan imannya kepada semua yang mendekatinya, memberi semangat kepada mereka di tengah bahaya besar yang harus mereka hadapi”.
Ia mencoba menghubungi rekan kerjanya Rm. Lorenzo Canto yang tinggal dekat gereja Santo Yohanes, sebagai titik acuannya ketika melarikan diri. Gereja ini, yang terletak di sebelah Lonja (sebuah model luar biasa dari arsitektur gotik sipil) dan Pasar Sentral (karya modernis yang luar biasa dari besi, kaca, dan keramik dari tahun dua puluhan), adalah salah satu monumen seni yang khas dari kota sejak zaman Reconquista. Dinding-dinding dan ruang dalamnya menyimpan jejak perjalanan berabad-abad dan seni. Dekorasinya bergaya barok dan lukisannya, dibuat oleh Palomino, sekarang praktis lenyap karena api.
“Hamba Tuhan mendapati dirinya harus melewati gereja itu ketika sedang terbakar, api menghanguskan benda-benda suci yang terkumpul di tengah bangunan itu. Seperti yang diingat oleh banyak saksi, semangat Hamba Tuhan dikenal oleh semua, dalam persatuan dengan semangat kuat dan impulsifnya, yang tidak akan membiarkannya berdiam diri di hadapan pelanggaran terhadap Allah dan penodaan terhadap gereja”.
Rm. Juan sebagai orang asing yang datang ke tempat itu dengan berpakaian buruk. Ia menjadi salah satu dari banyak orang yang melarikan diri ke kota untuk mencari tempat tinggal pada hari-hari terakhir bulan Juli 1936. Dia mendekati gereja yang kebakaran itu dan bergabung dengan kerumunan untuk melihat apa yang tengah terjadi dan ia berseru bahwa apa yang terjadi sungguh kelewatan.
“Sungguh kelewatan. Sungguh kejahatan. Ini benar-benar dosa sakrelegi!” Ketika mereka mendengar protes itu, ada yang berkata, “Kamu imam ya?” Lainnya berkata, “Kamu sayap kanan atau tradisionalis?” Romo Juan menjawab: “Ya aku imam!” Romo Juan secara terbuka memprotes kebakaran di gereja Santo Yohanes yang dilakukan kelompok anti agama. Karena itu ia dilemparkan ke penjara.
Bukan Kehendakku
Di hari peringatan santo Lorenso, dari penjara rm Juan menulis surat untuk superior jenderal yakni Romo Philipe guna mengucapkan selamat pesta nama dan sekaligus memberitahu kalau Ia di penjara. Di penjara itulah ia mengalami hidup yang tidak mudah. Tidak ada alasan untuk menyembunyikan identitas diri sebagai imam. Ia tahu bahwa ia dipenjara bukan karena alasan politik tapi karena ia seorang imam. Ia dengan terus terang kaatakan bahwa ia adalah seorang imam dan religius. Bagi penghuni penjara lainnya, pernyataan ini sungguh-sungguh akan membawa resiko berat. Menurut kesaksian penghuni penjara, “Rm Juan itu bertindak sebagai imam yang agung. Di taman ia mengajak orang lain berdoa. Kadang kala ia berdoa di sel dan kadang mendoakan orang yang kurang ajar kepadanya.”
Pada malam tanggal 23 Agustus 1936. Romo Juan dibawa ke ladang di Silla, di sebuah peternakan yang disebut “El Sario”, di tempat yang dikenal sebagai La Coma. Tempat ini menyerupai taman Gethsemane, penuh dengan pohon zaitun, yang dikenal oleh Yesus.
Saksi-saksi atas apa yang akan terjadi adalah bintang-bintang pada malam musim panas, Sembilan teman yang dibunuh, dan cahaya dari truk-truk pickup yang menerangi selokan irigasi dan sepanjang tembok. Dalam ritual klasik yang telah terjadi ratusan kali, para korban disusun, disiksa, dan ditembak. Inilah bagaimana kesaksian medis mengungkapkan apa yang terjadi saat sisa-sisa rm Juan diidentifikasi, digali kembali, dan dipindahkan ke Puente la Reina pada tahun 1940, sehingga dia akan bersama dengan para seminaris yang telah dia persembahkan sebagian besar hidupnya. Rm. Juan María de la Cruz menjalani hidupnya sebagai oblat dan reparator dan jalan salib seperti ribuan tahun yang lalu di mana Kristus menjalaninya.
Romo Juan menjalani pengalaman hidupnya sebagai imam dan religius untuk menjadi semacam sirene hingga saat kemartirannya. Ia membuat orang-orang yang bersua dengannya tersadar bagaimana ia mengambil bagian dalam gereja dan bagi Masyarakat di Spanyol. – Selesai

Leave a Reply