RANCANGAN CINTA HATI KUDUS DALAM EKARISTI (Meditasi I Pater Dehon Tentang Ekaristi)

Pater Dehon Pendiri Kongregasi SCJ
13. Saat Perjamuan Malam Terakhir, Yesus, yang dipenuhi ekstasi cinta, memberkati roti menjadi Tubuh-Nya, mewujudkan cita-cita hidup-Nya. Hati Kudus-Nya ingin membuka sumber rahmat dan bersatu intim dengan kita melalui penetapan Ekaristi.

I. Hati Kudus ingin menetapkan Ekaristi untuk mengkomunikasikan semua kebaikan-Nya kepada kita.

14. Yesus sangat merindukan Paskah ini (“Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu” – Luk 22:15), ingin membuka sumber kehidupan dan memulai keintiman dengan kita. Ekaristi adalah sumber segala karunia dari Hati-Nya, menyatukan semua rahmat dalam satu karunia. Bagi jiwa yang membutuhkan, Ekaristi adalah pertolongan, obat, dan sumber daya, peringatan akan keajaiban Tuhan yang pengasih dan penyayang (Mzm 111:4).

15. Jiwa yang dicobai, gelisah, miskin, atau sekarat harus mencari pertolongan pada obat ilahi ini. Bagi jiwa yang lembut dan membutuhkan kasih sayang, sahabat ini menawarkan nasihat, teladan, dan bimbingan. Yesus selalu hadir dan siap dalam Ekaristi, tersedia di mana pun dan untuk semua orang, memuaskan tak terhingga jiwa.

II. Dia telah memberikan kepada kita lebih dari segala kebaikan dengan memberikan kepada kita sumber dan pembagian kebaikan itu sendiri.

16. Ekaristi memberikan buah-buah kasih tak terbatas Tuhan, namun Yesus juga memberikan pohonnya sendiri: diri-Nya, Hati-Nya, sumber segala belas kasihan. Dengan menyerahkan diri-Nya, Dia memberikan segalanya—kemanusiaan-Nya yang kudus dan keilahian-Nya yang tak terbatas—tanpa batas bagi keinginan kita, kecuali disposisi kita sendiri.

III. Dia ingin bersatu secara intim dengan kita.

17. Dalam Ekaristi, Yesus tidak hanya memberikan segala karunia dan sumbernya, tetapi juga menunjukkan kasih persahabatan dan keintiman. Dia ingin tinggal dan bercakap-cakap dengan kita dalam keintiman yang lembut. Kemurahan hati-Nya membawa-Nya seolah-olah “di luar diri-Nya sendiri” (Santo Dionisius). Dia “menjual segala kekayaan-Nya” untuk membeli hati kita yang miskin, ingin menjadi segalanya bagi kita agar kita menjadi segalanya bagi-Nya; akal akan menolaknya tanpa iman.

18. Resolusi. – Yesus, persahabatan-Mu membingungkan dan mengguncang jiwaku. Aku meremehkan tawaran-Mu. Inilah hatiku, ambillah dan jangan biarkan aku mengambilnya kembali atau membaginya.

Pertanyaan reflektif untuk meditasi:

  1. Pernyataan-pernyataan manakah yang menyentuh hati dan pikiranku? Mengapa?
  2. Pemahaman-pemahaman baru apa yang saya temukan (kembali)?
  3. Apa resolusi/niat-niatku berdasarkan penemuan-penemuan itu?
(Diambil dari CAM Pater Dehon atau Meditasi Mahkota Cinta Hati Yesus) 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*