Gagal Bermisi, Paripurna sebagai Martir.
Pendahuluan:
“Oh Perawan, Ratu para martir Meksiko, anugerahkanlah kepadaku agar suatu hari nanti aku pun bisa menjadi martir bagi Kristus Raja dan bagi-Mu, Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Oh Ibu… aku yakin bahwa melalui perantaraan para martir-Mu, Engkau akan mengabulkannya untukku.
Putramu, Frater Martino Capelli.” (Albino, 12-12-1931).
Kalimat di atasi diambil dari tulisan rohani milik Pastor Martino, yang dikenal sebagai ‘Permohonan Kemartiran’. Pastor Martino Capelli menulisnya pada hari raya Santa Maria dari Guadalupe setelah ia terpukau oleh sebuah ceramah tentang kemartiran di Meksiko. Kalimat tersebut merangkum seluruh hidup dan spiritualitasnya: sebuah kehidupan yang dijalani dan dipersembahkan bagi sesama, dengan mengikuti jejak Yesus sendiri. Dalam kata-kata ini, kita dapat merasakan panggilan kemartirannya, dalam arti yang paling mendalam dan hingga konsekuensi yang paling ekstrem: mengorbankan dirinya sendiri sampai akhir demi kasih kepada saudara-saudarinya.
Masa Kecil

Pastor Martino Capelli lahir di Nembro (Italia) pada tanggal 20 September 1912 dari pasangan Martino (1862-1925) dan Maria Teresa Bonomi (1873-1931). Ini merupakan pernikahan kedua ayahnya yang dilangsungkan pada tahun 1902. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai enam anak, dan anak yang terakhir adalah sang Hamba Allah di masa depan.
Martino dibaptis dengan nama Nicola Giuseppe (Nikolas Yosef). Ia menempuh pendidikan sekolah dasar di Nembro (1918-1922) hingga menyelesaikan wajib belajar dasarnya. Sakramen Penguatannya bertepatan dengan hari peringatan penobatan Madonna Yang Berdukacita di Tempat Ziarah Zuccarello pada tanggal 8 Agustus 1920.
Pada usia dua belas tahun, Martino masuk ke Sekolah Apostolik Hati Kudus yang berada di dekat Albino. Di sana, para Dehonian (SCJ) telah mendirikan seminari menengah religius sejak tahun 1907. Di tempat inilah Martino menerima pendidikan sekolah menengahnya.
Panggilan Religius dan Imamat

Dari Albino, ia melanjutkan ke sekolah tingkat atas di novisiat Dehonian di Tempat Ziarah Maria Bunda Perdamaian di Albisola. Ia mengucapkan profesi pertamanya pada tanggal 23 September 1930, dan memilih nama religiusnya dari nama mendiang ayahnya, yaitu Martino Maria. Formasi religius dan akademisnya berlanjut di Bologna, tempat ia menempuh studi filsafat selama tiga tahun.
Setelah lulus, Martino dipindahkan kembali ke Albino. Selama tahun tersebut, ia mengalami beberapa momen spiritual yang istimewa, termasuk sebuah konferensi yang dibawakan oleh Pastor Luigi Ziliani, yang melarikan diri dari Meksiko karena penganiayaan di negara tersebut. Dalam situasi itulah religius muda ini berdoa: “Kepada Perawan para martir Meksiko, anugerahkanlah agar suatu hari nanti aku pun bisa menjadi martir bagi Kristus Raja dan bagi-Mu, Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda… aku yakin bahwa… Engkau akan mengabulkannya untukku.” (12 Desember 1931). Beberapa hari kemudian, ibunya meninggal dunia dan ia memilih Bunda Maria Yang Berdukacita sebagai ibu barunya. Ia berdoa: “Sekarang, Oh Maria, jadilah ibu bumiku juga”.
Kembali ke Bologna, ia melanjutkan studi filsafatnya. Pada tanggal 23 September 1933, ia mengucapkan ikrar kekalnya, menguduskan dirinya kepada Hati Kudus Yesus. Setelah menghabiskan waktu satu tahun di Trento sebagai “prefek” (1934-35), ia memulai studi teologinya di Bologna di seminari regional Benediktus XV. Ia tinggal selama tiga tahun berikutnya di Skolastikat, tempat ia menerima tahbisan minor dan, pada tahun 1938, ditahbiskan menjadi imam. Ia merayakan Misa khidmat pertamanya di Nembro, di Tempat Ziarah Madonna Zuccarello.
Formasio di Roma
Selama tahun-tahun formasinya, Martino menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang misionaris dan martir. Pada akhir tahun keempat teologi, ia meminta kepada para superior (atasan) untuk diutus ke Cina. Namun, karena perang yang kian mendekat, ia justru dikirim ke Roma untuk belajar di Institut Alkitab (Biblicum) selama dua tahun. Pada tahun ketiganya, ia mendaftar di Athenaeum Propaganda Fide dan berhasil memperoleh gelar lisensiat dalam bidang teologi dengan predikat cum laude.
Perang yang mengerikan
Pastor Martino ingin menyelesaikan studinya dan merampungkan tesisnya, namun karena kekurangan profesor di sekolah tersebut, para superior memutuskan untuk memindahkannya sementara waktu ke Castiglione dei Pepoli. Sementara itu, perang di Italia semakin dekat dan kian berkecamuk. Pada musim panas tahun 1944, tentara Jerman menyita sekolah tersebut dengan tujuan untuk menjadikannya rumah sakit.
Akibatnya, ia harus mengungsi untuk kedua kalinya ke kota Burzanella. Setelah tiga minggu melakukan khotbah, Romo Martino tiba di komunitas yang baru. Namun, pada tanggal 18 Juli, tentara Jerman mengepung desa tersebut, membakar rumah-rumah, dan menangkap lima orang. Romo Martino sendiri menyaksikan langsung eksekusi mati dua orang partisan di alun-alun gereja.
Pioppe di Salvaro

Beberapa hari kemudian, Romo Martino pergi ke Salvaro untuk membantu Monsinyur Fidenzo Mellini, yang telah mengundangnya untuk berlibur. Di sana ia bertemu dengan seorang sahabat baik yang mendukungnya layaknya saudara kandung, yaitu seorang imam Salesian (SDB) bernama Romo Elia Comini.
Mereka berdua memiliki ikatan persaudaraan imamat yang sangat kuat. Mereka tidak hanya mengurus pelayanan pastoral biasa, tetapi juga membantu orang-orang yang paling rentan di tempat tersebut. Dapat dikatakan bahwa pada musim panas tahun 1944, Romo Martino Capelli adalah seorang misionaris sejati yang mewartakan firman Allah.
Romo Martino berkomitmen untuk merawat secara langsung umat Allah yang menderita dengan kasih yang berkobar, harapan yang hidup, serta pemahaman yang teguh akan pelayanan imamat beserta tuntutannya. Meskipun ia menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupnya jauh dari komunitas Dehonian, di Salvaro ia mampu membaktikan dirinya bagi kebutuhan pastoral umat dengan pengorbanan diri; membantu, mendukung, membimbing, menyemangati, dan menghibur mereka. Bersama-sama, Romo Martino dan Romo Elia menjalani tiga hari suci (triduum) menuju kemartiran mereka.
Triduum Kemartiran
Pada hari Jumat, 29 September, beredar rumor bahwa unit SS Jerman sedang menyisir daerah tersebut. Pasturan dan gereja Salvaro seketika dipenuhi oleh orang-orang yang ketakutan. Pikiran pertama dari kedua imam tersebut adalah menyelamatkan kaum pria, yang biasanya lebih rentan terhadap aksi pembalasan tentara.
Setelah mereka merayakan Misa, seorang pria datang dengan terengah-engah memperingatkan mereka bahwa seluruh keluarga telah dibantai di Creda. Meski para wanita mencoba menghalangi dan membujuk mereka agar tidak pergi, Romo Martino dan Romo Elia tetap memutuskan untuk pergi menemui orang-orang tersebut demi membawa bantuan dan penghiburan rohani. Namun, setibanya di sana, kedua imam itu langsung ditangkap oleh SS Jerman dan dipaksa memikul amunisi sepanjang hari. Menjelang matahari terbenam, mereka dibawa ke kandang ternak di pabrik rami (pabrik pengolahan serat rami) di depan gereja Pioppe di Salvaro.
Pada hari Sabtu, 30 September sekitar tengah hari, pasukan SS Jerman dan seorang pejabat Republikan, dengan ditemani oleh seorang partisan pengkhianat, mengadakan interogasi singkat untuk mendapatkan informasi dari para tahanan serta memilah pria yang layak untuk dijadikan pekerja paksa di Jerman. Romo Martino dituduh karena pernah terlihat di San Martino, di rumah Romo Ubaldo Marchioni, dan hal itu sudah cukup bagi tentara untuk mencapnya sebagai seorang partisan. Nasib yang sama juga menimpa Romo Elia Comini. Kedua imam yang dikurung di sebuah ruang tahanan kecil itu memahami nasib apa yang akan segera menimpa mereka.
Seseorang sempat melihat mereka dari jendela: Romo Elia sedang menatap ke langit sementara Romo Martino membungkuk dalam doa; namun tidak akan pernah ada yang tahu pasti bagaimana mereka melewati malam Getsemani tersebut.
Setelah dua hari mendekam dalam penjara yang kejam, pada hari Minggu, 1 Oktober, Dina Pescio, seorang guru dari Pioppe di Salvaro, berhasil berkomunikasi dengan kedua imam tersebut. Romo Elia mencoba memberikan penghiburan kepadanya lalu memberkatinya. Romo Martino tidak mampu berkata-kata, tetapi ia memberikan tanda berkat dan terus berdoa.
Sore harinya, para tahanan dibawa ke tempat yang disebut “tong”, yaitu sebuah saluran yang mengatur air untuk pembangkit listrik pabrik rami. Pada saat itu, saluran tersebut penuh dengan lumpur. Senapan mesin telah disiapkan; dan hanya beberapa meter dari sana, empat puluh empat korban dikorbankan.
Romo Martino, setelah ditembak dan jatuh ke dalam saluran air tersebut, sempat bangkit berdiri, mengucapkan beberapa patah kata, dan membuat tanda salib. Sembari menorehkan berkat terakhirnya, ia pun roboh dengan tangan terentang. Ia wafat pada usia 32 tahun.
Tidak ada seorang pun yang boleh mendekat untuk memberikan bantuan ataupun menguburkan jenazah mereka. Para korban tetap berada di sana sampai pintu air dibuka ke kanal dan seluruh jenazah hanyut terbawa oleh aliran Sungai Reno.
Mengingat kembali tanggal 8 Desember 1932, ketika Martino berusia dua puluh tahun, ia pernah menulis seruan ini kepada Bunda Maria: “Suatu hari nanti, oh Ibu, kita akan bertemu kembali di ranjang kematian kemartiranku. Ya, aku akan selalu menjadi milikmu, sepenuhnya milikmu!”. Ranjang kematian Romo Martino adalah dasar berlumpur dari saluran air Pioppe. Di tempat yang pilu itu, Bunda Maria Yang Berdukacita telah menantinya, dan akhirnya membawa dia bersamanya menuju terang dan kedamaian Tuhan yang Bangkit.
Saksi Kasih dan Rekonsiliasi


Leave a Reply