KAUL KEKAL DELAPAN FRATER SCJ

Kongregasi SCJ mensyukuri rahmat panggilan para anggotanya, khususnya 8 frater yang mengucapkan kaul kekal dan para imam dan bruder yang merayakan 25 tahun hidup membiara. Peristiwa ini dilaksanakan di Kapel Skolastikat SCJ Yogyakarta. Momen ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali panggilan ketaatan para religius dehonian pada zaman ini.

Pengucapan Kaul Kekal SCJ

Pada tanggal 18-19 Juli, komunitas Skolastikat SCJ Yogyakarta menerima banyak tamu dari berbagai daerah. Mereka adalah sanak saudara dari 8 frater yang mengucapkan kaul kekal pada Senin, 20 Juli 2026. Delapan Frater SCJ yang  mengikrarkan prasetia kekal adalah:

  1. Fr. Andreas Agung Yubile, SCJ, berasal dari Paroki St. Petrus, Kenten
  2. Fr. Charles Oktavianus Markus Tada Wadan, SCJ berasal dari Paroki St. Petrus, Kenten
  3. Fr. Faustinus Trias Windu Aji, SCJ, berasal dari paroki St. Pius X, Gisting
  4. Fr. Marcelinus Wahyu Setyo Aji, SCJ, berasal dari Paroki Kabar Gembira, Kotabumi
  5. Fr. Gregorius Rizki Saputra, SCJ, berasal dari Paroki St. Maria Pengantara Rahmat Ilahi, Lahat
  6. Fr. Moses Putra Gautama SCJ, berasal dari paroki St. Pius X, Gisting
  7. Fr. Simeon Salos Epri Sanjaya, SCJ, berasal dari Paroki Para Rasul Kudus, Tegalsari
  8. Fr. Valentinus Fio Milinio Febriantoro, SCJ, berasal dari Paroki St. Maria Assumpta, Mojosari.

Allah yang memberi pertumbuhan

Mereka memiliki tekad yang sama, yakni ingin hidup lebih dekat dengan Kristus. Adapun tema yang mereka usung ialah “Allah sing paring tuwuh”  yang artinya “Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor 3: 6).  Tema kaul kekal ini lahir dari perenungan dan pergulatan personal. Para Frater yang mengikrarkan kaul kekal sadar, bahwa mereka rapuh, takut, dan tidak sempurna. Setiap dari mereka mempunyai pergumulan pribadi dalam menerima tugas-tugas yang dipercayakan dalam masa formatio, terlebih ketika menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral dan Panggilan (TOPP). Oleh karenanya, tema “Allah sing paring tuwuh” ini menjadi sangat penting dan mengingatkan mereka akan pengalaman dikasihi, bertumbuh, dan berproses bersama Allah.

Faciem tuam

Perayaan Ekaristi pengikraran kaul kekal, pesta 25 tahun hidup membiara, dan pembaharuan kaul sementara dipimpin oleh Rm. Andreas Suparman, SCJ, selaku Superior Provinsial SCJ Provinsi Indonesia. Rm. Andreas Suparman, SCJ, juga didampingi oleh Rm. Petrus Sugiarto, SCJ, selaku Rektor Skolastikat SCJ dan para Romo Yubilaris yang merayakan 25 tahun hidup membiara. Mereka adalah, Rm. Paulus Dodot Kusworo, SCJ,  Rm. A.G. Yudistiro Adi Fitri T., SCJ, Rm. Agustinus Kelik Pribadi, SCJ, dan  Rm. FX Joko Susilo, SCJ. Di antara para Yubilaris yang merayakan 25 tahun hidup membiara, juga ada Br. Markus Triyono Yulianto, SCJ dan Br. Markus Islumiyanto, SCJ. Mereka duduk dengan hikmat dan tenang di samping para frater yang akan berkaul kekal.

Dalam khotbahnya, Romo Provinsial memberi judul “Faciem tuam, Domine, requiram” (Wajah-Mu ku cari ya Tuhan). Romo Provinsial mengingatkan kita akan pertanyaan Yesus terhadap murid-murid pertama, pun mewakili pertanyaan kita zaman ini, “Apa yang hatimu cari?”.  Dalam khotbahnya, Romo Provinsial juga mengundang kita untuk kembali bertekun dalam tiga nasihat Injili yaitu kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Beliau mengatakan bahwa, “Hidup bakti merupakan panggilan untuk terus-menerus mencari wajah Tuhan, sekaligus juga usaha untuk menampakkan wajah Yesus yang murni, miskin dan taat kepada Gereja dan dunia”. Oleh karena itu, bagi Romo Provinsial hidup bakti adalah kesaksian dari komitmen yang penuh sukacita namun sekaligus berat, dari pencarian yang tekun akan kehendak ilahi.

Di tengah dunia dan perkembangannya, budaya modernisasi yang menekankan pada subyek telah berperan besar dalam penghargaan martabat pribadi manusia. Namun sebagai akibatnya, perkembangan ini mengalami distorsi dalam pemaknaan mengenai kebebasan, kemandirian, aktualisasi diri, dan kesejahteraan pribadi. Oleh karenanya maka, Romo provinsial juga memberi penekanan lebih pada makna ketaatan suci. Tentu yang dimaksudkan bukan ketaatan buta tanpa usaha. Romo Provinsial memberi penegasan tentang makna ketaatan yang aktif dan dinamis. Seperti halnya orang yang sedang dipangkas rambutnya. Mereka taat, namun juga mempunyai hak untuk mengajukan saran dan pesan agar tercipta sebuah harmoni, antara sang pemangkas dengan yang dipangkas. 

Semoga peristiwa iman ini menjadi semangat baru dalam tugas perutusan dan pemaknaan tiga nasihhat injil, lebih-lebih untuk semakin lepas bebas, setia dan taat terhadap kehendak Ilahi. Berkah Dalem. (oleh Fr. Andreas Pebarianto, SCJ)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*