Pada peringatan kelahiran Pater Dehon yang ke-181, hari Kamis, 14 Maret 2024, Komunitas Awam Dehonian (KAD) Belitang, dengan penuh sukacita mengadakan kegiatan sebagai bentuk kecintaan akan hidup dan nilai-nilai spiritual Pater Dehon yang telah diwariskan. Sekitar 30 orang anggota KAD Belitang mengawali kegiatan dengan Doa Thesaurus pada pukul 17.30 di Gereja St. Maria Tak Bernoda Tegal Rejo. Setelah itu, dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi sebagai sumber dan puncak perayaan iman, dipimpin oleh Rm. A. Sukadi SCJ. Dalam homilinya, Romo Kadi menyampaikan bagaimana hidup Pater Dehon, lahir dari keluarga bangsawan, seorang pribadi yang pintar namun ia penuh kerendahan hati mau merangkul mereka yang miskin dan papa. Selesai Perayaan Ekaristi, seluruh KAD dan umat diundang santap malam bersama.

Momen peringatan kelahiran Pater Dehon ini merupakan kesempatan berharga bagi Komunitas Awam Dehonian Belitang untuk sharing sukacita. Suasana gembira, sukacita dan kekeluargaan begitu kental saat Fr. Frans SCJ mengajak seluruh anggota KAD bernyanyi dan berjoget “SCJ oke.” “Komunitas Awam Dehonian adalah orang -orang awam yang mau belajar, mau menghidupi serta mau berbagi dari spiritualitas warisan pater Dehon; maka saat ini sungguh menjadi kesempatan baik untuk berbagi, saling meneguhkan dan memperkaya pendalaman nilai-nilai dan buah-buah rohani Pater Dehon,” ajak Mariyanto (Ketua KAD Belitang) saat memandu sharing.

Pak Wahyu, salah satu anggota KAD Belitang, membagi pengalaman bagaimna ia tertarik, menghidupi dan menghayati nilai-nilai Dehonian dalam hidup. “KAD bukanlah komunitas yang eksklusif, tetapi komunitas yang terbuka bagi siapapun. Hendaknya komunitas ini tidak ada persaingan sehingga tidak memunculkan perpecahan,” tutur Pak Wahyu. Beliau juga mengatakan bahwa keberadaan KAD bisa sebagai ‘filter’ kehidupan para biarawan SCJ. Artinya, jika hidup para biarawan SCJ tidak mencerminkan ‘hidup Dehon’, anggota KAD patut memberikan pengingatan atau teguran.

Seorang ibu dari Paroki Kristus Raja Tugu Mulyo OKI, yang saat itu turut datang, juga memberikan sharing. Ibu Prihatin mengatakan bahwa sejak kecil ia sudah mengenal para romo SCJ; hal itulah yang membuatnya terpesona akan spritualitas Pater Dehon. “Saya ini dikandung, dilahirkan dan dibesarkan oleh romo-romo SCJ,” ungkap Bu Prih. Pengalaman berbeda diungkapkan oleh Pak Budi. Beliau mempunyai seorang putra yang sekarang sedang menempuh pendidikan sebagai calon imam di Skolatikat SCJ Jogjakarta. Beliau mengatakan bahwa awalnya belum tertarik dengan KAD, namun saat anaknya, Fr. Billy SCJ, bergabung dengan Kongregasi SCJ, beliau merasa, “Kok anak saya seolah berjalan sendirian.” Mulai saat itulah, Bapak dan Ibu Budi bergabung dengan KAD demi mengenal lebih dalam Pater Dehon.


Leave a Reply