“Waute, Patora…”: Kedekatan yang Lahir dari Sebuah Kunjungan

Waute, Patora…
Kedekatan yang Lahir dari Sebuah Kunjungan

Oleh: Rm. Alexander David Buntoro, SCJ

Saat ini saya sedang berada di Ipaya, stasi terdekat dari Kokonao. Dari Kokonao ke Ipaya hanya sekitar 40 menit naik perahu bermesin 40 PK dan 15 PK. Pagi ini saya akan melanjutkan perjalanan menuju Amar, sekitar satu jam perjalanan dari Ipaya.

Ada satu pengalaman sederhana namun sangat berkesan yang saya alami hari Jumat lalu di Kampung Migiwia.

Waktu itu saya sedang berjalan menyusuri jalan kampung. Saya melihat seorang mama yang sedang berjalan dan spontan menyapanya.

“Selamat pagi, Mama.”

Namun tidak ada jawaban. Mama itu tetap berjalan seperti tidak mendengar.

Beberapa saat kemudian kami hampir berpapasan. Ketika jarak kami sudah sangat dekat, saya sadar bahwa itu mama yang tadi saya sapa. Saya kembali menyapanya sambil meraih tangannya yang sedang membawa empat batang rokok Gudang Garam.

“Mama beli apa?” tanya saya.

“Beli rokok buat bapa di rumah,” jawabnya singkat.

Mama itu tidak merokok. Rokok itu untuk bapanya.

Saya lalu bertanya lagi tentang harga rokok yang dibelinya.

“Kalau Rp5.000 dapat dua batang. Kalau empat batang Rp10.000,” katanya.

Setelah beberapa saat berbincang, saya bertanya,

“Mama pu rumah di mana?”

Mama itu tersenyum lalu menjawab,

“Ini rumah mama.”

Barulah saya sadar bahwa ternyata kami sedang berdiri tepat di depan rumahnya. Dari dalam rumah, seorang bapa tua memperhatikan percakapan kami.

Saya lalu meminta izin untuk singgah sebentar.

Ketika hendak menaiki tangga rumah, mama itu langsung memperhatikan langkah saya.

“Patora, hati-hati… papan ini su mulai lapuk.”

Mungkin ia melihat badan saya yang cukup besar dan khawatir papan itu tidak kuat menahan beban saya.

Kami lalu duduk bersama dan berbincang cukup lama. Banyak hal kami ceritakan. Salah satunya pengalaman Bapa Lukas Pane yang sudah dua kali menjalani operasi.

Di tengah percakapan itu, Bapa Lukas berkata dengan sangat mantap,

“Tuhan Yesus itu ada, Pater.”

Kalimat itu sederhana. Namun saya merasakan bahwa kata-kata itu lahir dari pengalaman hidup yang sungguh nyata.

Setelah cukup lama berbincang, saya mengajak mereka berdoa bersama.

Selesai berdoa, sebenarnya saya berniat melanjutkan perjalanan ke kampung berikutnya. Tetapi suasana terasa begitu akrab sehingga kami kembali larut dalam obrolan.

Akhirnya saya pamit.

Saat saya menuruni tangga rumah, mama yang tadi tidak memberi respons ketika saya menyapanya di jalan justru menuntun tangan saya.

Sambil menggenggam tangan saya ia terus berkata,

“Waute… hati-hati.”

“Waute… hati-hati.”

Dalam bahasa setempat, waute berarti anak laki-laki.

Di saat itulah saya merasakan sebuah kedekatan yang sungguh-sungguh.

Awalnya kami hanyalah dua orang asing yang berpapasan di jalan kampung. Tidak ada respons. Tidak ada percakapan.

Namun setelah kami saling mengenal, duduk bersama, mendengar cerita satu sama lain, dan berdoa bersama, lahirlah sebuah relasi yang berbeda.

Ketika saya hendak pergi, Bapa Lukas berkata,

“Pater, besok singgah-singgah lagi ke rumah.”

Sementara Mama Sisilia juga berkata,

“Waute, Patora… waute.”

Entah benar atau tidak, tetapi saya merasa bahwa kedekatan tidak lahir dari sapaan pertama.

Kedekatan lahir ketika kita mau berhenti sejenak, masuk ke rumah, duduk bersama, mendengar cerita, dan berdoa bersama.

Bukankah demikian pula yang dilakukan Yesus?

Ia tidak hanya lewat. Ia singgah. Ia duduk bersama. Ia mendengarkan. Ia makan bersama. Dan dari situlah lahir persaudaraan.

Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*