Pada tanggal 01 Juli 2026, sembilan postulan dari Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) secara resmi memulai masa novisiat. Mereka diterima dalam Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Novisiat Gisting pada pukul 17.00 WIB. Hadir tujuh imam SCJ, satu bruder, serta 80 umat yang turut memberikan dukungan dan doa bagi mereka. Masa Novisiat menjadi momen penting dalam inisiasi dalam hidup membiara.
Rm. Yohanes Rasul Susanto, SCJ, magister novis SCJ yang memimpin ekaristi sekaligus menerima sembilan postulan tersebut dalam homilinya, mengatakan bahwa kesembilan orang muda tersebut telah menunjukkan keberanian dan komitmen yang kuat untuk melanjutkan perjalanan panggilan mereka.
“Masa postulat merupakan waktu untuk mengolah kepribadian agar semakin matang. Kini, mereka dengan berani melangkah memasuki masa novisiat yang berfokus pada pengolahan kehidupan rohani,” lanjutnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa masa novisiat dikenal sebagai masa pembentukan hidup doa. Para novis akan dibimbing untuk semakin mendalami relasi pribadi dengan Allah melalui berbagai acara rohani, seperti doa harian, eksamen, dan Jam Kudus. Seluruh kegiatan rohani tersebut diharapkan mampu memperkuat motivasi panggilan sekaligus membangun kehidupan rohani yang semakin mendalam bagi calon imam dan religius SCJ.
Upacara penerimaan pakaian biara setelah homili menjadi tanda lahiriah bahwa kesembilan postulan telah resmi memasuki tahap baru dalam proses pembinaan sebagai novis SCJ.
Rm. Yohanes Ferry, SCJ, yang telah mendampingi dan memimpin retret persiapan, menegaskan pentingnya keyakinan dan sukacita untuk menuju tahap pembinaan yang baru.
Rm. Andreas Nofianto, yang merupakan pendamping postulan, berkata, “Kalian boleh mengeliminasi para formator dari bahtera kalian, tetapi jangan pernah mengeliminasi Yesus.
Perayaan penerimaan novis ini menjadi ungkapan syukur atas karya Tuhan yang terus memanggil kaum muda untuk mengikuti-Nya dalam kehidupan religius. Kehadiran umat yang turut mendukung menunjukkan bahwa panggilan tidak pernah bertumbuh sendiri, melainkan berkembang dalam doa, perhatian, dan kebersamaan seluruh Gereja. (Fr. Samuel-Novis)

Leave a Reply