Ibadat peletakan batu pertama pembangunan Biara Rumah Damai Dehon dilaksanakan pada Jumat, 16 Januari 2026, pukul 10.00 WIB. Ibadat ini dipimpin langsung oleh Pater Andreas Suparman SCJ, selaku Superior Provinsial SCJ Indonesia, dan menjadi momen penuh syukur atas dimulainya karya pelayanan bagi para konfrater SCJ yang sakit dan lanjut usia.
Acara ini dihadiri oleh para konfrater SCJ Wilayah Palembang, para suster FCh, perwakilan Rumah Sakit Charitas, para donatur, serta anggota Dehonian Awam. Kehadiran berbagai unsur ini menegaskan semangat kebersamaan dan tanggung jawab bersama dalam merawat para pelayan Gereja yang telah mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan umat.

Biara Rumah Damai Dehon dirancang sebagai rumah khusus bagi para konfrater SCJ yang membutuhkan perawatan kesehatan intensif. Lokasinya yang berdekatan dengan Rumah Sakit Charitas, khususnya cabang Myria, memungkinkan para konfrater memperoleh pendampingan medis yang lebih optimal, termasuk perawatan rutin dan rehabilitatif.
Secara fasilitas, bangunan ini direncanakan memiliki sekitar 21 kamar. Di lantai bawah disediakan sekitar 9–10 kamar yang dikhususkan bagi konfrater yang membutuhkan perawatan intensif, sedangkan lantai dua akan menampung para konfrater yang masih sehat dan berkarya di rumah tersebut. Desain bangunan juga memperhatikan aspek kenyamanan, keamanan, dan kemudahan evakuasi, selaras dengan kebutuhan para lansia dan pasien.

Dalam homilinya, Pater Andreas Suparman SCJ menegaskan bahwa pembangunan Biara Rumah Damai Dehon bukan semata-mata karya internal Kongregasi SCJ, melainkan ungkapan iman dan tanggung jawab bersama antara para SCJ dan umat. Umat merasa turut bertanggung jawab terhadap para imam dan bruder yang telah lanjut usia dan sakit, agar mereka dapat menjalani masa senja dengan damai, penuh perhatian, dan kasih persaudaraan.
Pater Provinsial juga mengajak seluruh umat untuk melihat peran para konfrater lansia secara lebih mendalam. Meski secara lahiriah mereka tampak tidak lagi berkarya secara aktif, penderitaan, kesetiaan, dan persembahan hidup mereka justru menjadi karya rohani yang besar dan menyuburkan seluruh pelayanan Gereja. Dalam terang iman, mereka tetap menjadi “batu karang” yang menopang kehidupan Gereja dan Kongregasi.
Dalam prosesi peletakan batu pertama, secara simbolis digunakan dua batu istimewa. Batu pertama berasal dari Tanjung Sakti, tempat awal kehadiran SCJ di Indonesia pada tahun 1924, sementara batu kedua berasal dari Papua, khususnya dari Biara Santo Yosef Timika. Kedua batu ini melambangkan sejarah, misi, dan keterlibatan SCJ di berbagai wilayah Indonesia, termasuk misi yang istimewa di Papua.

Pembangunan Biara Rumah Damai Dehon juga menjadi tanda nyata kolaborasi antara SCJ dan kaum awam. Hal ini ditegaskan melalui keterlibatan Bapak Halim, tokoh awam Keuskupan Agung Palembang yang juga bertindak sebagai kontraktor pembangunan. Proyek ini direncanakan dikerjakan secara swakelola dengan target waktu pembangunan sekitar 15 bulan.
Ketua Panitia Pembangunan, Rm. Laurentius Suwanto SCJ, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas cuaca yang baik dan kelancaran seluruh rangkaian ibadat. Ia menegaskan bahwa pembangunan biara ini merupakan ungkapan kasih dan penghormatan kepada para konfrater senior yang telah lebih dahulu melayani Gereja dan Kongregasi dengan setia.


Leave a Reply