Pada tanggal 1 Februari 2026, Bruder Stefanus Sumardi SCJ merayakan 50 tahun hidup religius. Bruder Sumardi saat ini tinggal di komunitas Rumah SCJ Cipinang Cempedak. Ketimbang merayakan dalam pesta meriah dan hingar bingar, bruder memilih untuk merayakan dalam keheningan. Ia memilih untuk merayakan 50 tahun hidup membiara dengan masuk dalam permenungan atas perjalanan panggilannya di Pertapaan Trapis Rawasenang. Bruder mengambil inspirasi Maria, Marta dan Lazarus yang membantunya semakin bisa menghayati hidup doa dan komunitas. Momen ini menjadi momen untuk “Mendengarkan Sabda Yesus” (Luk 10:38-42). Berikut adalah beberapa buah sharingnya.
Awal Panggilan
Setelah dibaptis pada saat kelas 3 SMP di Wates, Kulon Progo, tepatnya pada malam Paskah 1964, bruder Stefanus Sumardi SCJ sempat terbersit untuk menjadi imam dan ingin masuk Seminari Mertoyudan. Tetapi rencana Tuhan berbeda. Dikarenakan baru saja menerima baptisan maka persyaratan masuk seminari tidak terpenuhi.
Dari situ Bruder Stefanus Sumardi melakukan perjalanan hidup. Ia pindah ke Belitang, tepatnya Mojosari. Di sana, Ia dipertemukan dengan Romo Andreaz Lukasik SCJ yang membutuhkan orang yang dapat menemaninya saat berkeliling memberikan pelayanan. Teman perjalanan ini penting mengingat waktu itu kondisi kurang aman. Pertemuan ini membawa Bruder Sumardi pada perjumpaan dengan SCJ dan menumbuhkan kembali keinginannya untuk menjadi seorang religius.
Setelah diterima sebagai calon bruder, ia menjalani pembinaan sebagai calon religius dengan segala keterbatasan pada masa itu. Ia menjalani novisiat integral dan program novis gabungan di Yogyakarta. Tetapi juga ia sempat mengikuti program kaul kekal di Roncali. Semua itu membekalinya untuk menghayati hidup religius yang diikrarkan pada 1 Februari 1976 di Gereja Baturaja di hadapan romo Abdi Putra Raharja SCJ.
Masa Gelap
Perjalanan 50 tahun hidup membiaranya bukannya lancar-lancar saja. Bruder mengatakan bahwa ia pernah mengalami masa-masa gelap. Ia menghayati pemberian diri kepada Allah sebagai hidup yang saling melayani. Tetapi pada masa lalu, suasana persaudaraan dan pelayanan kurang terasa sehingga hal itu cukup membuat penghayatannya kurang ideal. Bruder Stefanus Sumardi merasa pada masa itu, pendampingan calon bruder belum memiliki arah yang jelas. Maka ketika arah pendampingan belum jelas, ternyata itu dapat membawa pada masa-masa gelap dalam hidup panggilannya di Skolastikat. Bruder Sumardi merasa, tidak tahu mau dibawa kemana hidupnya.
Dalam dialog dengan formator, bruder akhirnya menemukan pencerahan. Ia mengalami tahapan baru dalam hidup panggilannya dengan meninggalkan Skolastikat SCJ. Bruder bersyukur dengan adanya kesempatan untuk terus membina diri dengan tugas barunya di paroki St. Antonius Padua Bidaracina, Keuskupan Agung Jakarta. Bruder sedikit demi sedikit menemukan arah bagaimana ia harus memberikan diri. Salah satunya ialah lewat pelayanan sederhana tetapi membutuhkan totalitas dan kerendahan hati yakni melayani konfrater yang transit di Jakarta. Juga ia dipercaya untuk membina para misdinar dan mengajar katekumen dan agama di sekolah. Ini sungguh mendorongnya untuk semakin maju. Bruder menyadari bahwa modal pengetahuan agamanya terbatas. Oleh karena itu tantangan saat mengajar tersebut mendorongnya untuk mengikuti kursus Teologi di Driyarkara.
Hidup Kaul
Bruder menghayati panggilannya sebagai murid Kristus dan ini tidak terpisahkan dengan kerinduannya akan keselamatan jiwa dan raganya. Sebagai religius keselamatan itu secara khusus dicapai dengan menjalankan nasehat-nasehat injil. Oleh karena itu, bruder tak pernah lelah mencari tahu dan berusaha menghidupi ketiga kaul.
Baginya seorang biarawan harus terus belajar tentang apa yang menjadi panggilannya. Bruder memiliki kebiasaan membaca buku-buku yang membantunya untuk menghayati hidup panggilannya secara lebih mendalam. Apalagi pada masa pensiunnya dari karya di Pendidikan di KAPAL justru menjadi kesempatan baginya untuk membaca buku-buku teologis yang mencerahkan diri.
Bruder juga meyakini kalau bekerja itu mengungkapkan kemiskinan. Ia menceritakan bagaimana pada masa berkarya di suatu yayasan, ia mengarahkan agar sekolah-sekolah tetap memberi perhatian kepada mereka yang kesulitan pembiayaan. Dalam karya tersebut dapat dilihat bagaimana sikap kemiskinan seorang religius yang berpihak pada yang kesulitan ekonomi.
Bruder menegaskan demikian, “Seorang bruder jangan lupa bahwa doa dan karya (ora et labora) merupakan bagian hidupnya. Tugas seorang religius ialah menjalankan hal itu secara disiplin.” Cara itulah kesaksian konkret untuk menjalani hidup sebagai religius. Dalam doa-doanya Bruder selalu mengingat para konfrater yang sakit, tua dan menderita. Juga untuk umat yang mengalami penderitaan selalu masuk dalam daftar doanya. Tentu tiada terlupakan untuk mendoakan karya konfrater serta para donator. Dalam komunitas, hidup doa menjadi sumbangannya bagi membangun komunitas.
Bruder mengucapkan banyak terima kasih kepada para konfrater atas dukungan dan persaudaraan yang telah ia alami. Perhatian pada dirinya sungguh memberikan sukacita. ***

Leave a Reply